2. Pilih resistor dengan resistansi sesuai dengan kondisi.
3. Ukur tegangan dan arus memakai voltmeter dan amperemeter dan catat pada jurnal percobaan.
Prinsip Kerja :
Hukum Ohm menyatakan bahwa bahwa besarnya arus listrik yang mengalir
melalui sebuah penghantar selalu berbanding lurus dengan tegangan yang
diterapkan kepadanya .Secara sistematis besar arus dapat dihitung
menggunakan hukum ohm dengan rumus I=V/R. dari rumus ini ,besar arus
pada suatu rangkaian/komponen bergantung pada besar tegangan yang
mengalir kepada komponen itu dan besar hambatan yang dimiliki oleh
komponen tersebut.Bedasarkan rangkaian diatas,resistor tersebut memiliki
tegangan yang sama dengan tegangan pada sumber,karena resistor tersebut
parallel dengan sumber tegangan.karena beda potensial di resistor
itu,maka hukum ohm dapat berlaku dan besar arus dapat dicari menggunakan
hukum ohm tersebut.
b. Hukum Kirchoff
1. Buatlah rangkaian seperti gambar rangkaian di bawah.
2. Pilih resistor dengan resistansi sesuai dengan kondisi.
3. Ukur tegangan dan arus memakai voltmeter dan amperemeter dan catat pada jurnal percobaan.
Prinsip Kerja :
Pada rangkaian sebelah kiri adalah rangkaian seri.Disini dapat
berlaku hukum kirchoff II ,dimana jumlah beda potensial sebuah rangkaian
tertutup adalah nol.Disini jika dibuat loop searah jarum jam ,maka
total beda potensial/tegangannya adalah -BAT 1 + I.RA +I.RB + I. RC =0.
Dari persamaan ini dapat menghasilkan arus yang akan mengalir pada
rangkaian tersebut. Jika arus sudah diketahui,maka dapat dicari berapa
tegangan pada masing masing komponen tersebut.
Pada rangkaian sebelah kanan adalah rangkaian parallel.Disini dapat
berlaku hukum kirchoff 1,dimana Arus yang masuk pada percabangaan akan
sama dengan arus yang keluar dri cabang tersebut.(Imasuk=Ikeluar).
Sehingga hukum kirchoff 1 berlaku untuk rangkaian diatas,sehingga arus
yang mengalir pada rangkaian tersebut sama dengan arus total atau
IA+IB+IC=I TOTAL.
c. Teorema Mesh
1. Buatlah rangkaian seperti gambar rangkaian di bawah.
2. Pilih resistor dengan resistansi sesuai dengan kondisi
3. Ukur tegangan dan arus memakai voltmeter dan amperemeter dan catat pada jurnal percobaan.
Prinsip Kerja :
Metode arus Mesh merupakan prosedur langsung untuk menentukan arus
pada setiap resistor dengan menggunakan persamaan simultan. Langkah
pertamanya adalah membuat loop tertutup (disebut juga mesh) pada
rangkaian. Loop tersebut tidak harus memiliki sumber tegangan, tetapi
setiap sumber tegangan yang ada harus dimasukkan ke dalam loop. Loop
haruslah meliputi seluruh resistor dan sumber tegangan. Dengan arus
Mesh, dapat ditulis persamaan Kirchoff’s Voltage Law untuk setiap loop.
1. Bandingkan nilai resistansi terbaca dan perhitungan
Rterbaca = 560Ω, 1.000Ω, 1.200Ω
Rperhitungan = 502Ω, 1.255Ω, 1.673Ω
Terdapat perbedaan yang besar pada resistor 1.000Ω,
1.200Ω, pada resistor 1.000Ω perbedaannya mencapai 255Ω, sedangkan pada
resistor 1.200Ω, perbedaannya lebih besar yaitu 473Ω. Hal ini
dikarenakan pada saat pengukuran arus, praktikan menggunakan amperemeter
analog, yang artinya menggunakan nilai skala dan nilai pendekatan untuk
membaca alat ukur, faktor lain yang bisa mempengaruhi adalah toleransi
resistor, komponen fisik resistor tidak pernah 100% benar dengan
nilainya, artinya, pasti ada toleransi pada tiap-tiap resistor, sehingga
nilai yang terbaca tidak selalu sama dengan nilai perhitungan.
Hukum Kirchoff
1. Bandingkan nilai Itotal perhitungan dengan Itotal pengukuran
Itotal perhitungan = 0,056 A
Itotal pengukuran = 0,064 A
Perbedaan
antara Iperhitungan dengan Ipengukuran ialah 0,008 A, perbedaan ini
termasuk dalam kategori sedang, perbedaan ini disebabkan oleh beberapa
faktor, seperti pada saat mengukur arus total dalam rangkaian, praktikan
menggunakan amperemeter analog, sedangkan pada saat menghitung arus,
praktikan menggunakan multimeter digital untuk menghitung nilai tegangan
pada tiap resistor, pada saat nilai tegangan sudah didapatkan, barulah
dicari nilai arus, sehingga pembacaan pada amperemeter analog dengan
multimeter digital bisa saja berbeda. masing-masing alat ukur memiliki
hambatan dalam yang berbeda-beda.
2. Bandingkan nilai Vtotal perhitungan dengan Vtotal pengukuran
Vtotal perhitungan = 13,93 V
Vtotal pengukuran = 12,53 V
Perbedaan
sebesar 1,40 V dengan presentase error 10% dalam praktikum cukup umum
terjadi, hal ini dikarenakan tiap alat ukur memiliki resistansi internal
yang mempengaruhinya, serta resistor yang juga memiliki nilai toleransi
masing-masing, tergantung resistor yang digunakan. Faktor lingkungan
juga mempengaruhi hasil pengukuran seperti suhu.
Teorema Mesh
1. Bandingkan nilai resistansi terbaca dengan terukur
Selisih
antara Rterbaca dengan Rterukur tidak jauh berbeda, hanya berkisar
antara 17-24 Ω, perbedaan ini terbilang cukup kecil, dan wajar terjadi,
karena tiap resistor memiliki nilai toleransi, sehingga nilainya tidak
selalu tepat 1000Ω.
2. Bandingkan arus terukur dengan arus hasil perhitungan
Selisih
antara Iterukur dengan Iterhitung yaitu kecil, ini artinya, praktikum
ini sudah mendapat data yang akurat dan benar, hanya saja perbedaan
kecil ini disebabkan oleh nilai toleransi pada resistor serta pembulatan
angka pada alat hitung praktikan.
Modul 3 [KEMBALI KE MENU SEBELUMNYA] DAFTAR ISI 1. Pendahuluan 2. Tujuan 3. Alat dan Bahan 4. Dasar Teori 5. Percobaan Percobaan ... 1. Tugas Pendahuluan 2. Laporan Akhir MODUL 3 HUKUM OHM, HUKUM KIRCHOFF, VOLTAGE & CURRENT DIVIDER, MESH, NODAL, THEVENIN 1. Pendahuluan [ Kembali] Hukum Ohm adalah prinsip dasar yang menjelaskan hubungan antara arus listrik, tegangan, dan hambatan listrik dalam suatu konduktor pada suhu tetap. Secara ringkas, besarnya arus listrik yang mengalir pada suatu penghantar berbanding lurus dengan tegangan yang diberikan dan berbanding terbalik dengan hambatannya. Dapat dituliskan dengan persamaan: I = V / R Hukum Kirchhoff, terdiri dari Hukum Kirchhoff Arus (KCL) dan Hukum Kirchhoff Tegangan (KVL), merupakan alat bantu penting dalam memahami dan menganalisis perilaku arus dan tegangan dalam suatu rangkaian listrik. Hukum ini memungkinkan kita untuk menghitung arus dan tegangan di berbagai titik...
[KEMBALI KE MENU SEBELUMNYA] DAFTAR ISI 1. Pendahuluan 2. Tujuan 3. Alat dan Bahan 4. Dasar Teori 5. Percobaan 6. Link Download 1. Pendahuluan [Kembali] Penguat operasional (op-amp) adalah komponen fundamental dalam berbagai aplikasi sistem elektronika analog. Salah satu konfigurasi paling umum dari op-amp adalah penguat inverting, yang digunakan untuk memperkuat sinyal dengan membalik fasa output terhadap input. Dalam sistem sinyal AC berfrekuensi tinggi, performa op-amp sangat dipengaruhi oleh parameter dinamisnya, terutama slew rate . Slew rate menunjukkan kemampuan maksimum op-amp dalam merespons perubahan cepat tegangan output. Studi ini menganalisis keterbatasan tersebut melalui rangkaian penguat inverting yang diberi sinyal sinusoidal, guna menentukan frekuensi maksimum sinyal masukan yang dapat diterima tanpa distorsi akibat keterbatasan slew rate. 2. Tujuan [Kembali] 1. Menentukan frekuensi maksimum sinyal masukan sinusoidal yang dapat dikuatkan tan...
MODUL 1 [KEMBALI KE MENU SEBELUMNYA] DAFTAR ISI 1. Pendahuluan 2. Tujuan 3. Alat dan Bahan 4. Dasar Teori 5. Percobaan Percobaan ... 1. Tugas Pendahuluan 2. Laporan Akhir MODUL 1 POTENSIOMETER & TAHANAN GESER DAN JEMBATAN WHEATSTONE 1. Pendahuluan [Kembali] Potensiometer adalah sensor yang berfungsi sebagai resistor 3 kaki terminal, dengan sambungan geser yang membentuk pembagi tegangan. Di terminalnya ada sebuah shaft atau tuas, yang berfungsi sebagai pengatur. Potensiometer sebagai resistor variabel 3 terminal, yang resistansi divariasikan secara manual, untuk mengontrol aliran arus listrik. Struktur potensiometer terdiri dari komponen penyapu (wiper), elemen resistif, dan terminal. Apabila hanya ada 2 terminal digunakan, maka ia akan bertindak sebagai variabel penghambat atau rheostat. Potensiometer tergolong sebagai variabel resistor. Dalam hal ini, potensiometer berfungsi sebagai pembagi tegangan yang bisa disesuaikan. Dengan dem...
Komentar
Posting Komentar